Di Balik Seragam Polisi, Ada Pengabdian Sunyi Aiptu Affan untuk Warga di Tambak Asri

waktu baca 4 menit
Minggu, 6 Sep 2026 07:20 20 Andi Amran

SURABAYA — Radarpostindonesia.com. Tidak semua bentuk pengabdian kepada masyarakat dilakukan di tengah sorotan. Sebagian justru lahir dari ruang sederhana, jauh dari kamera dan tanpa imbalan.

Kisah itu dijalani Aiptu Affan Hermansyah, anggota Panit Binmas Polsek Pabean Cantikan, jajaran Polres Pelabuhan Tanjung Perak. Di sela kesibukannya sebagai anggota Kepolisian, Affan menyisihkan waktu untuk membantu warga yang mengalami berbagai keluhan kesehatan. Uniknya, pelayanan tersebut dilakukan secara sukarela dan tanpa memungut biaya.
Rumahnya di kawasan Jalan Tambak Asri Gang 26 Nomor 22, Surabaya, menjadi tempat warga datang membawa keluhan. Dari masalah ringan hingga keluhan saraf, warga dilayani dengan penuh perhatian.
Bagi Affan, membantu sesama bukan semata soal profesi. Ada keyakinan bahwa tenaga dan waktu yang diberikan kepada orang lain merupakan bagian dari pengabdian.

Usai Dinas, Pengabdian Belum Berakhir

Bagi sebagian orang, berakhirnya jam kerja menjadi waktu untuk beristirahat. Namun bagi Affan, melepas tugas kedinasan tidak serta-merta berarti berhenti membantu masyarakat. Selepas menjalankan tugas, ia masih membuka pintu rumahnya bagi warga yang membutuhkan bantuan.

Tidak ada meja pendaftaran. Tidak ada tarif. Tidak pula kotak pembayaran.

Yang ada hanyalah ruang sederhana, tangan yang membantu dan ketulusan untuk meringankan beban orang lain. Sikap tersebut menjadi gambaran lain dari sosok polisi yang selama ini dikenal identik dengan ketegasan dan penegakan hukum.

Ketukan Pintu yang Mengubah Lelah Menjadi Kepedulian

Salah satu kisah yang menggambarkan pengabdian Affan terjadi ketika seorang pasangan lansia datang ke rumahnya. Saat itu, waktu telah memasuki penghujung hari. Seorang nenek terlihat menuntun suaminya yang mengalami keluhan saraf kejepit dan kesulitan berjalan. Kondisi ekonomi membuat pasangan tersebut tidak mudah mendapatkan penanganan yang mereka harapkan. Di tengah keterbatasan itu, mereka datang membawa satu hal yang masih tersisa: harapan.

Affan pun mempersilakan keduanya masuk. Rasa lelah setelah menjalankan tugas seharian seakan berganti menjadi kepedulian. Ia kemudian membantu menangani keluhan sang kakek dengan pijatan pada bagian-bagian tubuh yang dikeluhkan. Suasana sederhana di rumah itu berubah menjadi ruang penuh perhatian dan doa.

“Bayarnya dengan Doa Saja”

Tidak ada pungutan setelah pelayanan selesai.
Sang nenek bahkan sempat bertanya mengenai biaya yang harus dibayarkan. Dengan keterbatasan yang dimilikinya, ia tampak khawatir tidak mampu membayar.

Namun jawaban Affan justru membuat suasana berubah haru.

“Bayarlah dengan doa, Nek. Doakan agar saya selalu diberi kesehatan untuk terus membantu sesama. Upah saya sudah disiapkan oleh Gusti Allah di akhirat nanti.” Ucapan tersebut menjadi jawaban sederhana yang menggambarkan prinsip yang dipegangnya. Baginya, membantu warga bukan kesempatan untuk mencari keuntungan.

Menolong Tanpa Mengharap Balasan

Affan meyakini bahwa kemampuan yang dimiliki manusia pada akhirnya hanyalah perantara. Kesembuhan tetap merupakan kehendak Tuhan. Karena itu, dalam memberikan bantuan, ia mengedepankan ketulusan dan tidak menjadikan kondisi warga sebagai alasan untuk meminta imbalan.
Pengabdian tersebut sekaligus memperlihatkan sisi humanis seorang anggota Kepolisian di tengah masyarakat.
Seragam polisi yang dikenakannya tidak hanya dimaknai sebagai simbol kewenangan, tetapi juga sebagai amanah untuk memberikan manfaat.

Dari Tambak Asri, Sebuah Pesan Kemanusiaan

Apa yang dilakukan Aiptu Affan mungkin berlangsung sederhana dan tidak selalu diketahui banyak orang. Namun dari rumahnya di Tambak Asri, muncul sebuah pesan penting: pengabdian tidak selalu membutuhkan panggung. Terkadang, pengabdian hadir dalam bentuk tangan yang membantu orang sakit, waktu yang diberikan setelah menjalankan tugas, atau pintu rumah yang tetap terbuka bagi warga yang membutuhkan. Di tengah kehidupan yang sering kali mengukur segala sesuatu dengan materi, Affan memilih jalan yang berbeda. Ia membantu tanpa memasang tarif dan menerima doa sebagai bentuk penghargaan.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya sebuah tindakan sederhana.

Namun bagi mereka yang datang dalam kondisi sakit dan kesulitan, bantuan tersebut bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti. Kisah Aiptu Affan pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang seorang polisi yang membantu warga.
Ini adalah cerita tentang nurani, keikhlasan dan pengabdian yang dilakukan tanpa banyak suara. Sebuah pengingat bahwa seragam boleh melambangkan kewibawaan, tetapi kemanusiaanlah yang membuat pengabdian memiliki makna.

Artikel Group Komunitas Jurnalis Nusantara

(Andi Amr)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA